EKSPLORASI BUDAYA CINA BENTENG: ISTILAH CINA BENTENG BERASAL



Tangerang – Fbinewsbanten.net


Berbicara kota Tangerang, tak lepas dengan istilah Ciben atau Cina Benteng. Masyarakat Ciben ini sudah mendiami kota Tangerang, jauh sebelum Negara Kesatuan Republik Indonesia berdiri. Kami tim FBI News Banten mencoba menyusuri jejak sejarah Cina Benteng ini merasa tergelitik untuk mengangkat kembali salah satu budaya khas Tangerang dalam suatu rangkaian serial artikel yang mana kita bisa berbagi wawasan dan pengetahuan kepada pembaca semua, khususnya di wilayah Kota Tangerang.


Kami menemui Koh Achong Lim, salah satu tokoh pengamat budaya etnis Tionghoa di Kota Tangerang. Koh Achong ini sering menjadi konstultan budaya untuk beberapa media TV Nasional di Indonesia, Rabu (12/01/2022).



Dalam suasana yang santai dan bersahaja, kami berbincang cukup seru dan mendapatkan beberapa cerita menarik yang berkaitan dengan Cina Benteng dan budaya etnis Tionghoa di Indonesia.


Diawali pada masa ekspedisi Laksamana Cheng Ho ke Nusantara, yang mana pasukan dari Laksamana Cheng Ho tersebut ada yang terdampar di berbagai tempat, salah satunya adalah ke Tanjung Burung (Teluk Naga), yang dipimpin oleh Laksamana Chen Chi Lung (Ha Lung) pada tahun 1407 dan tercatat dalam Tina Layang Parahyang. Kala itu daerah tersebut masuk ke dalam wilayah kekuasaan Kesultanan Bantam (yang sekarang dikenal Banten).


Adapun di daerah tersebut, Laksamana Chen Chi Lung beserta pasukannya harus melapor ke Kadipaten yang dipimpin oleh Adipati Anggalarang. Adapun kantor Kadipaten berletak di Gedung Dharma Wanita Kota Tangerang, sederet dengan Gedung DPRD dan Masjid Agung Tangerang. Tujuan melapor adalah sebagai tamu asing (singke atau tamu baru) dari Tiongkok yang terdampar di wilayah Adipati Anggalarang. Dan itulah fase pertama orang Tiongkok datang ke Tangerang.



Kala itu belum disebut istilah Cina Benteng. Tapi Cina Bike. Yang merupakan singkatan dari “bibi” dan “singke”. Yaitu Cina peranakan yang mana ibunya adalah penduduk lokal (bibi) dan bapaknya adalah singke (pendatang Tiongkok). Pada zaman itu, hanya pasukan pria yang dibawa oleh Laksamana Cheng Ho.


Tahun 1595 Jan Pieterszoon Coen datang ke Banten dan mendirikan Kamar Dagang VOC. Hingga VOC berpindah ke Batavia (Sunda Kelapa) dikarenakan perang dengan Kesultanan Banten. Namun VOC tetap ingin menguasai wilayah Banten, maka VOC mendirikan benteng pertahanan di sepanjang sungai Cisadane yang dikenal dengan Benteng Makassar. Disebut Benteng Makassar karena kurangnya pasukan Belanda yang menjaga benteng, maka ditariklah orang-orang Bugis dari Makassar dan benteng tersebut dijaga oleh orang-orang Makassar.


Dan etnis Tionghoa yang berasal dari keturunan pasukan Laksamana Chen Chi Lung inilah yang memang sudah lama tinggal di Tangerang, banyak bermukim di pinggiran sungai Cisadane hingga benteng itu berdiri. Jadi istilah Cina Benteng muncul untuk sebutan koloni masyarakat etnis Tionghoa yang bermukim di pinggir pinggir Sungai Cisadane yang masuk wilayah sekitar benteng. 

“Jadi orang Cina Benteng adalah kelompok masyarakat yang berkoloni dan bermukim di sekitaran benteng di abad ke-18 itu” pungkas Koh Achong. 


“Dan yang di luar sekitar benteng disebut Cina Udik dan Cina Ulu. Ulu itu utara, udik itu selatan. Termasuk dari Karawaci, Legok hingga ke Curug itu disebut Cina Udik,” tambahnya. 


Memang jika berbicara mengenai budaya Cina Benteng seakan tidak ada habisnya. Banyak hal menarik yang dapat menambah wawasan kita. Nantikan kupasan-kupasan lain dalam serial artikel Eksplorasi Budaya Cina Benteng, di FBI News Banten. 


Ditulis : Andreas Budi

Admin : Teddy

Terkini